Minggu, 24 Mei 2009

Facebook Haram ??!!

Facebook diharamkan ?
Penasaran ? Pasti.
Itu yang terpikir ketika teman saya kerja menyatakan hal tersebut beberapa hari lalu.
Dia justru berkomentar miring.
"Ada - ada aja kiai - kiai ini...Gak pernah ngenet, kali..."
Wow, (saya langsung berpikir singkat) kalau ini dibiarkan bisa bikin perang SARA nih...

Hanya gara-gara selentingan yang belum tentu kepastiannya, sebuah berita tentang ke-haram-an situs jejaring sosial ini cepat meluas. Bahkan berita di salah satu website koran ternama di Indonesia yang memberitakan tentang berita ini sudah memiliki 204 comment, dan mayoritas merespon untuk "melawan haramnya" Facebook.

Saya hanya berpikir sederhana saja.
Saya lebih setuju pada pendapat ulama lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir (di sebuah koran digital). Beliau menyatakan, semua itu tergantung tujuannya. Dan saya cenderung sepakat pada beliau.
Apapun yang kita lakukan, itu tergantung tujuannya. Dan dari situlah, muncul justifikasi HALAL dan HARAM. Kecuali, jika Nabi Muhammad SAW sudah menjelaskan tentang haramnya suatu hal, maka tidak perlu ada bantahan - bantahan lagi didalamnya. Gitu aja sih...

Ilustrasinya, kita lagi punya uang, dan kita ingin membeli sebuah mobil. Apa yang akan anda lakukan akan menjadi halal jika mobil tersebut digunakan untuk kebaikan. Tapi jika mobil tersebut digunakan untuk kejahatan (misalnya untuk merampok bank), ya jadinya haram deh mobilnya...
Sama juga dengan Facebook. Kalau tujuan kita ber-facebook ria, adalah untuk silaturahmi dengan teman lama atau teman diluar negeri, sharing informasi, dan sebagainya, maka HALAL-lah menurut saya. Namun, jika digunakan untuk hal - hal yang membawa keburukan, maka HARAM-lah itu...
(tapi kok rasanya saya belum bisa menyebutkan apa contoh buruk penggunaan facebook, karena setahu saya, facebook merupakan fasilitas komunikasi moderen. Itu saja fungsinya. Jadi, ya maaf, karena saya pun termasuk pengguna yang masuk golongan lempeng-lempeng ajah...hehehe)

So, just be wise, lah!

Rabu, 20 Mei 2009

Batam-Papua? Jauh, tapi...


Saya baru saja menyelesaikan percakapan panjang (setidaknya mengisi setengah hari waktu kerja saya) melalui email. Teman saya tersebut seorang gadis (bukan mawar namanya, ups!) yang sekarang bekerja di Batam.

Beberapa waktu lalu, dia bercerita bahwa dia sudah memiliki pasangan, tapi masih belum mau mengungkapkan siapa identitas pria tersebut. Hanya saja, dia menjelaskan bahwa orang tersebut berasal dari Jawa Timur. Pada waktu itu dia berkata bahwa dia sudah sangat cocok sekali dengan pria tersebut dan berencana "sesuatu" (mungkin menikah) bulan september 2009.

Tapi baru hari ini dia bercerita kembali bahwa, oh, udah gak lagi (gak berhubungan spesial lagi maksudnya). Dengan alasan klasik "belum berjodoh".

Saya tertegun.
Sebenarnya jodoh itu untuk siapa dan oleh siapa sih ?.

Yang terlintas dibenak saya, dia sudah menginjak 26 tahun untuk ukuran seorang wanita. Bukan apa - apa sih. Hanya saja muncul ketakutan dibenak saya, bahwa semakin mandiri seorang wanita maka semakin dia tidak membutuhkan pendamping hidup.

Bukan justifikasi, melainkan kekhawatiran atas beberapa kemungkinan dan analisa pribadi.
(ups, apaan tuh!)

Analisa sederhana saya tentang wanita modern begini...
Yang pertama,
Kondisi wanita yang memiliki penghasilan, cenderung menjadi wanita mandiri. Wanita yang bisa melakukan semuanya sendiri.
Yang kedua,
Wanita = MultiTasking Person (memang tak diragukan lagi karena banyak ahli berkata demikian)

Apa yang terjadi jika :
Wanita Mandiri + MultiTasking Person = Superwoman

Superwoman, memang hebat. She can do it all alone, by herself !!.
If so, does she need a partner in life?. Probably no, cos she can do everything alone…
She can buy a house, car, has a great position, adopt a baby (and she grow the baby up alone)…
does she need a man ?? for love ??? no exactly, cos she has many friends who love her…
Ya kan ????

Insight yang saya dapatkan dari pembicaraan ini adalah Komitmen.

Pada dasarnya hidup berpasangan itu sangat membutuhkan komitmen. Ketika dua orang memiliki tujuan hidup yang berbeda, satu ke Batam satu ke Papua, dan ada komitmen untuk tetap bersama, maka ada banyak cara untuk mencapai tujuan bersama tersebut. Bisa aja ke Papua dulu, bisa aja ke Batam dulu, bisa aja cuma ke Batam trus gak jadi ke Papua (karena ombak tinggi), atau bisa juga cukup ke Makassar aja (karena mungkin disana tengah - tengahnya Batam dan Papua).

Intinya komitmen. Komitmen untuk selalu bersama.

However, Man needs Woman. And vice versa. Dalam kondisi apapun, ada hal yang pasti pria tidak bisa, dan ada hal yang wanita tidak bisa, begitu sebaliknya (contoh ekstrimnya, adalah adanya sperma dan sel telur). Dan keturunan adalah tujuan yang paling Akhir untuk sebuah hubungan.

Just Find What should be Yours !
(mohon maaf apabila ada kesamaan Tokoh dan Karakter, semata - mata hanya untuk kepentingan pemikiran semata. Karena saya pun juga punya banyak teman di Batam dan Papua)

Selasa, 19 Mei 2009

deBouley Photography

Sepertinya bukan rahasia lagi, karena akhir - akhir ini sudah mulai banyak teman, kerabat, kolega, partner kerja, bahkan teman jauh yang mulai bertanya-tanya diberbagai media (ehm, belagak artis, maksudnya, media itu kan bisa jadi facebook, handphone, imel pribadi, imel kantor...gitu...).
"Wah, sudah siap nih ???".
"Cool, fotonya keren".
"Pre-wed nya di kota tua ya ???".
...
...
Itu adalah beberapa dari sekian banyak comment yang muncul sesaat setelah pasangan saya (ehm) meng-upload foto pre-wed di facebook.

Terlepas dari berbagai comment itu (yang alhamdulillah semuanya positif), ada pihak - pihak yang berjasa dibalik itu semua.
Adalah "deBouley Photography" (Group dari Dewatha Invitation) yang membuat semuanya jadi seperti yang diharapkan. Konsep yang ditawarkan, ketika saya dan pasangan berkonsultasi, pun sangat unik.
Vintage, Classic, and Memorable. Yang terkesan elegan, dan tidak basi walaupun dilihat 5 sampai 10 (bahkan 20) tahun kedepan.

Mau tahu hasilnya ?
Hm, karena belum benar-benar di-publish, jadi sabar dulu ya..
(klo yang bener - bener gak tahan liat di facebook ajah, tapi jangan kaget, karena belum ditusir aja udah keren...hehehehe)

Barangkali ada yang butuh kontak Dewatha Invitation :
Dewatha Invitation (deBouley Photography)
Address : Jl. Darma Husada Utara III / 17, Surabaya (031) 5939832.

Almost Perfect

...processing...
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII.................I
0% ....................................................................100%

40 days later

40 days later...
Can't wait for the day...
...
...
I am waiting for it...
for sharing love...
for sharing life...
...
...
for being a real man.

Rabu, 06 Mei 2009

Menjadi Pria Sejati

Beberapa waktu yang lalu, saya mengirim email ke teman saya.

Ini isi pertanyaan saya :
Kamu waktu mau menikah dulu ada perasaan apa ?
Karena aku kadang bertanya2, sanggup gak ya…???
jadi kepala keluarga itu gimana ??
apa yg harus aku siapin ??

Teman saya menjawab :
Terus terang pas mau nikah perasaanku gembira ria, happy, tidak sabar, dsb..
Menikah dan berkeluarga adalah hal yang aku tunggu-tunggu. Jadi itulah kenapa perasaan positif pas mau menikah...
Sejak umur 17 aku sudah tidak punya keluarga yang utuh.. jadi ya kepinginnya cuman berkeluarga (maksudnya, orang tuanya meninggal di kisaran usia itu). kadang-kadang hal seperti itu kita lupakan (kurang disyukuri) kalau kondisinya normal-normal aja. baru kebingungan dan kepikiran jika sudah kehilangan... Makanya cita-citaku gak muluk-muluk. Lulus, kerja dan menikah (berkeluarga). Lain-lainnya nanti mengikuti...

Beberapa orang mungkin kepingin berkarir dulu, cari kerja di kota lain, dll.. Kalo aku cuma kepingin "pulang ke rumah"...

Sanggup gak ya?
Kondisimu sekarang jauh lebih mapan daripada aku pas nikah dulu. Kamu sudah punya rumah, punya tabungan, kalian berdua berpenghasilan...
Sanggup gak ya?

Cepat atau lambat kamu pasti kepingin menikah..
Sekarang terserah kamu, menikah sekarang atau mikir-mikir dulu meskipun akhirnya nanti juga menikah...
Berpikir itu memang perlu. Tapi saranku berpikirlah untuk mengantisipasi apa yang nantinya akan dihadapi, jangan berpikir tentang sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak jadi/tidak perlu menikah...

Apa yang perlu disiapkan? Selain finansial (kamu sudah cukup modal) juga keinginan/niat...

Jadi kepala keluarga itu bagaimana?
Aku pernah jadi bujangan. Ternyata bujangan itu gak enak...
Apa enaknya berangkat kerja gak ada yang dipamiti atau nganterin...
Apa enaknya pulang kerja gak ada siapa-siapa...

Apa enaknya di rumah tengak-tenguk (clingukan) gak ada anak yang diajak main-main..

Saya langsung terdiam. Berulang-ulang saya baca emailnya, saya perhatikan dengan seksama, saya pahami frasa yang tertulis didalamnya, karena saya tak ingin kehilangan satu pun makna didalamnya.
Saya pun sadar. Hidup itu adalah kesiapan. Berkeluarga adalah hal yang indah, tidak perlu menimbulkan kecemasan. Kesiapan hanya kita yang tahu, karena ketika kita memutuskan untuk menikah maka berarti kita percaya bahwa diri kita "SIAP". Siap untuk mengantisipasi apa yang nanti dihadapi, mengatur antara emosi dan logika. That's the point!