Bukan maksud hati untuk menyaktimu...
Bukan niat untuk melupakan janji...
Intinya seperti itu. Tanpa sadar mungkin dia terluka. Entah karena lelah mengurus semua tetek bengek pernikahan, atau jenuh karena dipaksa menerima nasib sebagai "sepasang korban" kelemahan sistem keluarga yang dibuat oleh generasi sebelumnya. Yang akhirnya membuat kita harus menjalankan semuanya berdua.
Berdua.
Sangat Berdua.
Bahkan tidak ada sedikit pun istilah "limit melewati dua".
Haqqul yakin, Berdua!.
Sehingga, apa jadinya jika salah satu melakukan kesalahan ?.
Yap, tidak seimbang dan goyang. Terjadi ketimpangan dan ... KONFLIK !
Berawal dari keberangkatanku ke Malang untuk membantu nasib keluarga (Mencontreng sih, berhubung bapakku maju sebagai caleg, sudah kewajibanku membantu keluarga. Ya kan ???. Emang apa hubungannya antara "membantu keluarga" dan "mencontreng caleg" ??. Tafsirkan saja sendiri...).
Padanya, aku berjanji sesegera mungkin akan kembali ke Surabaya untuk mengurus segala keperluan yang bisa dicicil untuk urusan pernikahan (karena kita benar-benar BERDUA!). Tapi, karena sebagai anak yang ketika pulang kampung menjadi sarana curhat keluarga, aku baru bisa ke TPS pukul 12 siang. Alamak, TPS pun lemot. Antara pendaftaran dan pencontrengan memakan waktu yang lama. Alhasil, aku telat. Baru berangkat pukul 2 siang.
Ketika sampai di rumahnya, dia terdiam. Tertidur karena lelah menungguku, menunggu janjiku sebagai tim BERDUA. Tertidur dengan penuh amarah. Dan terbangun dengan sesak karena amarah tak tertahan.
Dia marah karena aku lupa janji.
Dia merobek buku merah yang menjadi saksi catatan persiapan nikah.
Dia menghancurkannya.
Dia marah.
Dia membantingnya, semua.
Aku salah karena ingkar janji.
Aku salah juga karena tidak mengabarinya jika terlambat.
Aku salah karena menghilangkan kepercayaannya.
Aku salah karena mengkhianati janjiku sendiri.
Aku menyesal.
Aku harus belajar dari ini.
Kecuali ingin semuanya hancur.
Tidak!
OTCC : Formulasi Menarik tuk Tumbuhkan Bisnis
15 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar