Kamis, 30 April 2009

Teman

Teman,.
Kalian berdua adalah orang terdekat ku&dia.
Kalian adalah orang yang paling kita "anut" selama ini.
Kalian-lah yang menjadi pandangan dan bandingan hidup ku&dia.

Aku akan berkeluh kesah pada kalian.
Aku mohon ajar dari kalian.

Ajarkan aku mencintai bukan rutinitas.
Cinta yang bisa mengasah naluri hati.

Karena aku lelah dengan amarah.
Karena aku bosan dengan Lupa yang tak kunjung Ingat.

Teman aku ingin seperti kalian.
Membahagiakan dan dibahagiakan.

Rabu, 29 April 2009

Ransom

Kalau boleh meminta, saya akan meminta waktu sehari kemarin diulang lagi.
Tidak apa - apa saya mengalami keburukan yang sama dengan hari kemarin.
Bahkan jika keberuntungan saya harus dirampas, saya ikhlaskan.
Kalaupun dengan merampas keberuntungan saya kemarin dan ditambah dengan mengalami keburukan kemarin seharian penuh, saya mau !.
Amat sangat mau !

Dua hari pun saya mau lah !
Seminggu ??
Baik !. Deal !.

Saya hanya butuh satu momen.
Pukul 6 pagi. Sama seperti 24 tahun yang lalu.
Beri saya kesempatan untuk mengucapkan sesuatu padanya.
Selamat Ulang Tahun.
Saya akan bayar mahal untuk hari kemarin.

Minggu, 26 April 2009

Banci

Banci.
Kenapa kamu banci ?
Pria sepertiku kah kamu sebelum jadi banci ?
Apa yang menginspirasimu jadi banci ?
Siapa artis idola mu, banci ?

Banci itu tetap terhormat.
Banci itu hebat.
Banci itu sebenarnya pemberani.

Karena banci itu mengaku banci.
Mereka berani berkata "aku wanita" meskipun sesungguhnya adalah banci.
Karena mereka memiliki kekasih seorang pria.
Walaupun dulu mereka pernah merasakan sebagai pria.

Banci itu juga terhormat.
Daripada mereka yang bimbang.

Mereka yang mengaku pria tapi sebenarnya adalah banci.
Mereka yang bertubuh kekar tapi berotak banci.
Mereka yang bingung karena malu dikata "banci".
Dan mereka yang tidak ingin jadi pria tapi malu mengaku banci.

Merekalah yang banci.

Aku tidak jijik denganmu banci.
Justru aku bangga berteman dengan banci.
Pilihanmulah menjadi banci.

Daripada wanita tapi tak wanita.
Daripada pria tapi tak pria.
Terhormatlah kau, banci.

Love your job...

Dulu sempat iri, karena rekan kerja ku dapat tawaran promosi jabatan, dengan alasan kebutuhan perusahaan di operasional lapangan, dan dengan iming-iming penyesuaian penghasilan bulanan dan berbagai macam bonus.
Tapi minggu lalu, tepatnya tanggal 23, aku mendapatkan penawaran itu. Aku menghadapi sebuah dilema besar!

Satu hal yang patut dicatat dalam sejarah. Adalah prestasiku di bidang Marketing Research dianggap diatas rata-rata, sehingga sang atasan berani merekomendasikanku untuk terjun di operasional lapangan, sebagai Team Leader.

Tantangan ?, memang!. Tapi banyak yang harus dipertimbangkan.
Sisi pertama :
Untuk urusan karir, memang, operasional memiliki peranan besar. Karena kita lebih banyak bekerja dalam hal koordinasi dan eksekusi lapangan. Sehingga, banyak karyawan memilih "jalan" ini untuk mencapai target karir, tentunya dengan fasilitas-fasilitas yang diatas rata-rata.
Sisi kedua :
Yang perlu menjadi perhatian adalah bagi yang tidak terbiasa hidup di lapangan, pasti akan susah menyesuaikan diri, khususnya keluar dari Comfort Zone, dimana sebagai staff kantoran sepertiku akan lebih memilih sesuatu yang relatif stabil. Karena hidup di lapangan bukanlah hal yang mudah. Butuh stamina prima, butuh kecepatan dalam pengambilan keputusan. Dengan kata lain, fisik dan pikiran harus siap.
Sisi ketiga :
Dengan stress yang lebih tinggi, perlu "biaya-biaya" untuk menghilangkan stress tersebut. Maka secara otomatis membutuhkan alokasi biaya baru, yakni biaya entertainment (yah, buat ngilangin stress ato penat kerja)
Sisi keempat :
Keluarga adalah teman hidup kita. Kita bekerja untuk menghidupi keluarga, untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga. Seyogyanya, keluarga adalah pertimbangan utama dalam memilih jenis pekerjaan. Karena, sebagai orang lapangan, hampir sebagian besar waktu kerja dihabiskan di lapangan, dan waktu kerja pun berbah, 5 days work to 6 days work, belum lagi kalau ada aktifitas promosi yang dilaksanakan diluar aktifitas rutin harian, semisal event musik dan sebagainya. Sisi ini pun kini jadi perhatian khususku. Yap, karena aku akan menikah dalam waktu dekat.

Lalu, kuputuskan. Kuputuskan untuk meninggalkan kesempatan ini, meski kutahu kecil kemungkinannya untuk datang kesempatan kedua.
Pertama, aku mencintai Research!. Aku suka meneliti sesuatu, menentukan metode baru seperti yang sekarang ini aku purpose-kan, aku suka menganalisa, dan aku suka membuat report tentang temuan-temuan yang berguna bagi semua orang dan men-share untuk kebaikan manajemen. Bagiku, sekarang, karir bukanlah di operasional. Tapi karir adalah penghargaan atas ketekunanku terhadap suatu bidang. Karir adalah peningkatan jabatan atas perolehanku.
Kedua, aku mencintai hubungan personal ku. Aku rela mengorbankan semuanya untuk memperoleh kehidupan keluarga yang lebih baik. Aku tahu kelemahanku, karena aku yang menjalani. Aku tak mau lagi lupa sehingga aku jauh dari "keluarga". Keluarga adalah segalanya buatku.
Ketiga, karir adalah bagian dari rejeki, dan karir tidaklah hanya disini. Analisa otakku, buat apa aku memilih karir di lapangan jika kesempatanku justru semakin tertutup untuk melihat dunia luar?. Aku masih ingin berkarya di hidupku sendiri. Bukan di hidup orang lain. Karena pada dasarnya, aku mencintai pekerjaanku, tapi aku masih yakin ini bukan tempatku.


...ini hidupku, aku bertanggungjawab atas hidup pengikutku...
...love your job, not the company...

Selasa, 21 April 2009

Tragedi Buku Merah

Bukan maksud hati untuk menyaktimu...

Bukan niat untuk melupakan janji...



Intinya seperti itu. Tanpa sadar mungkin dia terluka. Entah karena lelah mengurus semua tetek bengek pernikahan, atau jenuh karena dipaksa menerima nasib sebagai "sepasang korban" kelemahan sistem keluarga yang dibuat oleh generasi sebelumnya. Yang akhirnya membuat kita harus menjalankan semuanya berdua.

Berdua.

Sangat Berdua.

Bahkan tidak ada sedikit pun istilah "limit melewati dua".

Haqqul yakin, Berdua!.

Sehingga, apa jadinya jika salah satu melakukan kesalahan ?.

Yap, tidak seimbang dan goyang. Terjadi ketimpangan dan ... KONFLIK !



Berawal dari keberangkatanku ke Malang untuk membantu nasib keluarga (Mencontreng sih, berhubung bapakku maju sebagai caleg, sudah kewajibanku membantu keluarga. Ya kan ???. Emang apa hubungannya antara "membantu keluarga" dan "mencontreng caleg" ??. Tafsirkan saja sendiri...).

Padanya, aku berjanji sesegera mungkin akan kembali ke Surabaya untuk mengurus segala keperluan yang bisa dicicil untuk urusan pernikahan (karena kita benar-benar BERDUA!). Tapi, karena sebagai anak yang ketika pulang kampung menjadi sarana curhat keluarga, aku baru bisa ke TPS pukul 12 siang. Alamak, TPS pun lemot. Antara pendaftaran dan pencontrengan memakan waktu yang lama. Alhasil, aku telat. Baru berangkat pukul 2 siang.

Ketika sampai di rumahnya, dia terdiam. Tertidur karena lelah menungguku, menunggu janjiku sebagai tim BERDUA. Tertidur dengan penuh amarah. Dan terbangun dengan sesak karena amarah tak tertahan.

Dia marah karena aku lupa janji.

Dia merobek buku merah yang menjadi saksi catatan persiapan nikah.

Dia menghancurkannya.

Dia marah.

Dia membantingnya, semua.

Aku salah karena ingkar janji.

Aku salah juga karena tidak mengabarinya jika terlambat.

Aku salah karena menghilangkan kepercayaannya.

Aku salah karena mengkhianati janjiku sendiri.

Aku menyesal.
Aku harus belajar dari ini.
Kecuali ingin semuanya hancur.
Tidak!

Rabu, 15 April 2009

Almost Perfect

Aku masih 26 tahun (what, masih !???!!!). Yup, memang 26 tahun itu bukan angka kecil. Jika dalam satuan abad, maka sama dengan Seperempat Abad. Memang masih sangat jauh dibanding dengan kedua orang tua ku yang sudah 50 tahunan punya nafas dan merasakan pahit manisnya hidup ini.
Sangat banyak sekali yang aku peroleh dari hidup ini. Semuanya hanya mengarah pada satu pesan kehidupan.
"Pahamilah hidup, maka kita akan tahu mana yang terbaik untuk hidup kita, mana yang akan menghancurkan hidup kita".


Akhir - akhir ini, saya mendapat ujian berat yang mau tidak mau harus saya lalui. Mengapa saya sebut ujian berat ?. Tidak lain karena ini masalah Masa Depan. Masa depan yang harus saya tentukan sendiri kemana arahnya. Bukan lagi tentang memilih pasangan, atau bukan lagi tentang memilih perguruan tinggi. Tapi lebih pada, setelah saya memiliki pasangan yang siap saya nikahi dan dengan titel Sarjana dan bekerja diperusahaan swasta nasional, saya akan melangkah kemana bersama pasangan saya nantinya ???.

Berawal dari keinginan niat saya setelah berhasil berkata pada semua : "Eh, aku sekarang udah gak ngekos lo..."..."Yah, lumayan lah, bisa mulai punya rumah sendiri, meski pake bantuan KPR..."..."Alhamdulillah, ini cita-cita ibu bapak ibu saya, karena kami sekeluarga selalu jadi kontraktor (alias tukang ngontrak sana sini dari kecil)...[dengan nada kecut]...".

Dan sekarang setelah mimpi pertama saya untuk memiliki rumah itu terwujud, saya berani memutuskan untuk menikah. Waw!. tidak mudah memutuskan itu, karena saya harus memutuskan masa depan saya, serta bertanggung jawab menghidupi "anak orang" yang akan saya nikahi.

Dan, itulah yang sedang saya siapkan sekarang. Saya harus bersiap-siap menjadi sebenar-benarnya "pria" yang nantinya menjadi kepala keluarga, ayah dari anak - anak, penentu kebijakan keluarga, dan banyak lagi.

Intinya, kurang beberapa langkah lagi...
Hidup ini akan menjadi lebih Indah dan Lengkap...
Almost Perfect!

Satu pertanyaan, muncul sekarang.
Berarti saya pun bisa sempurna ???
Usia-lah yang membuktikan..